Tampilkan postingan dengan label Scenefiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scenefiction. Tampilkan semua postingan


Orang yang membicarakan orang lain saat bersamamu, juga membicarakanmu saat kamu tidak ada.
Jangan membicarakan orang lain saat bersamanya.

Orang sering tidak nyaman kalau kamu berbeda, jadinya inginnya kamu sama seperti mereka. Mereka lupa, kalau mereka pun tidak bisa menjadi seperti kamu.
Berubahlah hanya karena kamu menjadi lebih baik, bukan karena orang lain yang mengubahmu.

Orang mungkin akan menasehatimu, membicarakanmu di belakang, mencelamu, ketika kamu punya mimpimu sendiri yang tidak sesuai mimpi atau kemampuan mereka.
Jika kamu memang menginginkannya, jangan berhenti. Itu mimpimu bukan mimpi mereka. Hidupmu, bukan hidup mereka.

Orang mungkin bahagia dan sukses ketika menjalani sesuatu. Hanya karena mereka sukses di sana, bukan berarti kita juga akan sukses ketika melakukannya. Rezeki dan kemampuan orang berbeda.
Lakukan saja yang kamu sukai, yang kamu bisa, dari apa yang kamu punya. Yang kamu sukai akan membuatmu tidak mudah berhenti, yang kamu bisa akan memperbesar peluang keberhasilannya, yang kamu punya akan mengurangi ketergantunganmu pada hal lainnya.

Orang akan membeli apa, terserah mereka, bukan urusanmu, urusan kita. Hanya karena mereka punya, bukan berarti ego kita harus membeli sama atau lebih dari mereka.
Beli yang sesuai kemampuan kita saja, karena memang itulah hidup kita. Kita. Bukan mereka.

Orang punya kehidupan sendiri. Jangan merepotkan mereka. Jika mau berutang tapi tidak diberi, itu hak mereka, uang mereka. Kalau butuh bantuan tapi tidak dibantu, jangan emosi, mereka juga punya keperluan sendiri, kerepotan sendiri, masalah sendiri. Kamu bukan orang paling sengsara di dunia. Orang terdekatmu pun juga memiliki masalahnya.
Jangan selalu berharap pada orang lain. Bukan saja karena mereka punya urusan, keperluan, keluarga, dan hidup mereka sendiri; tapi juga agar kita bisa mandiri. Hidup kita, tanggung jawab kita.

Orang punya kelebihan sendiri. Kecantikan kita akan berbeda dengan kecantikan lainnya meski dengan make up yang sama dengan selebgram favorit kita. Muka, kulit, kemampuan finansial, semua sudah berbeda. Tidak perlu seperti mereka. Kamu sudah cantik dengan dirimu sendiri. Setiap kulit dan bentuk muka pun keperluannya tidak sama.
Kamu tidak akan bisa menjadi sama seperti siapa saja. Kamu adalah kamu. Tidak ada yang bisa berperan lebih baik menjadi seseorang selain dirinya sendiri. Istimewa dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Setiap orang tidak ada yang sama.

Orang punya kesukaan, sifat, dan karakternya sendiri. Yang suka bercanda tidak akan nyaman menjadi pendiam, yang pendiam tidak bisa dipaksa menjadi orang yang banyak bicara. Jangan memaksa mereka menjadi apa yang kita mau. Kita pun tidak akan mau menjadi seseorang yang kita tidak nyaman menjalaninya. Selama mereka mencoba terbaik untuk bersosialisasi dengan caranya sendiri, tidak merugikan, biarkan saja. Dunia milik bersama. Bukan hanya milik satu karakter saja.

Pada akhirnya, kita adalah kita. Mereka adalah mereka. Tetap bersama, tanpa memaksa mengubah salah satunya, atau terpaksa menjadi salah satunya. Tetaplah menjadi kita, tanpa merugikan mereka. Dan juga sebaliknya.

Read More ...

2 comments


Kadang aku ingin kita duduk berdua, sebentar saja.

Tidak perlu berbicara banyak. Tidak perlu aku berusaha membuatmu nyaman atau bahagia. Biasa saja. Seperti dua teman lama yang tidak pernah canggung meski sudah lama tidak bertatap muka.

Mungkin ada kesempatan untuk 'membacamu'. Mencari tahu apa-apa di balik semua tentang kamu. Apa yang kamu suka dan tidak suka. Apa yang kamu inginkan dan tidak mau kamu lakukan. Seperti apa perempuan yang kamu suka, dan apakah aku termasuk di dalamnya.

Hahaha. Aku bercanda.

Tapi, aku tidak bercanda kalau sampai aku berkata kita sudah kenal terlalu lama. Sedikit banyak aku tahu saat kamu suka dan saat kamu ingin pergi sejauh-jauhnya. Aku tahu kamu suka makan apa, minum apa, bahkan alergi apa. Tahu juga kalau kamu gak akan nonton film horor, bukan karena takutnya, tapi males kagetnya. Bisa dibilang aku merasa aku tahu tentang kamu, semuanya. Garis bawahi kata 'merasa' di sana.

Ada satu hal besar yang tidak aku tahu tentang kamu, tentang kita.

Apakah dulu kita pernah saling cinta?
Jika iya, masihkah ada perasaan yang sama?
Jika jawabannya tidak, lupakan saja.

Tapi aku yakin, tidak akan ada pertanyaan apapun dari mulutku tentang itu, jika kita memang sempat duduk berdua, saling berbicara.

Read More ...

2 comments



Mungkin, aku tidak mengerti apa maumu dan kamu tidak memahami apa inginku. Di sinilah mungkin kita sering tidak menemukan titik temu.

Kamu tidak mengerti kalau aku hanya ingin ada kabar, sekecil apapun itu. Aku tidak akan curiga, tidak akan memberondongmu dengan belasan tanya. Aku percaya, selama kamu bisa dipercaya. Lagipula, untuk apa bersama kalau bahkan kita tidak saling percaya? Tetapi, masalahnya, aku sering terlalu lelah menunggu kabar sampai larut malam dan ketiduran.


Dengar, maksudku seperti ini. Menanyakan kabarmu itu bukan curigaku atau cemburuku. Mungkin ada sedikit tentang itu, tapi lebih kepada kalau ada apa-apa denganmu, aku ingin yang pertama tahu. Aku ingin bisa segera ke sana untuk memastikan kamu baik-baik saja. Tapi kalau menurutmu itu mengganggu, ya sudah tidak apa-apa.

Kalau aku ingin kita lebih sering meluangkan waktu bersama, atau setidaknya saling 'telponan', itu juga bukan ingin mengikatmu dan kamu tidak boleh melakukan apa-apa kecuali denganku. Tidak, aku tidak mau membatasimu. Tetapi, cinta seharusnya membuat seseorang lebih istimewa.

Kita cinta, jadi untukku sendiri, kamu itu istimewa. Setiap kebersamaan atau 'ngobrol' nggak jelas saja itu berbeda dengan ngobrol dengan orang biasa lainnya. Apa kamu tidak ingin lebih sering atau lebih lama bersama dengan orang yang 'istimewa'?

Aku tidak akan mengganggu waktu futsalmu atau ngopi bersama teman-temanmu. Aku hanya ingin seminggu sekali dua kali kita bertemu. Melakukan apa saja. Bahkan kalau sekadar makan kerak telor yang biasa di pinggir jalan raya. Tidak perlu mengubah jadwal futsalmu atau ngopimu. Seluangmu, tetapi setidaknya sempatkan waktu.

Setidaknya kita saling ngobrol meski telponan. Aku sadar kamu, aku, punya kesibukan sendiri-sendiri. Tidak bisa terlalu sering ngobrol atau bertemu. Tetapi setidaknya sebelum tidur atau istirahat siang--5 menit saja, tidak akan mengubah rutinitas kita. 5 menit saja, itu tidak lama. Tetapi, kalau menurutmu itu mengganggu privasimu, ya sudah, tidak apa-apa. Aku bisa apa?

Kalau aku juga sering bertanya kita itu sebenarnya mau bagaimana; mau terus seperti ini atau ada rencana lebih jauh nantinya, itu bukan menyuruhmu atau menuntutmu cepat-cepat melamarku. Aku juga tidak mau tergesa-gesa. Tetapi setidaknya setiap perjalanan harus ada tujuan. Hubungan ini apa juga punya tujuan? Kepastian? Atau sekadar hanya agar tidak sendirian?

Bukan apa-apa. Aku perempuan. Semakin tua, semakin banyak waktu sia-sia kalau menjalani hubungan hanya agar tidak kesepian saja. Setidaknya ya, setidaknya, aku ingin diyakinkan kalau kita punya tujuan sama, bersama selamanya. Bukan sekadar sementara, dan kalau ada yang lebih baik, berarti bukan jodohnya. Di usia kita, cinta tidak lagi sebuah canda. Begitu bersama, seharusnya saling menyesuaikan, bukan kalau tidak sesuai, cari lainnya.

Tapi kalaui menurutmu aku terlalu menuntut, aku harus bagaimana?

Setidaknya, ayo kita saling berbicara. Menyesuaikan yang bisa disesuaikan dan memahami yang bisa dipahami. Apa yang kamu suka aku suka, apa yang kamu tidak suka aku suka? Apa yang bisa diubah apa yang tidak?

Kalau untuk meluangkan waktu saling berbicara saja kamu tidak bisa, aku tidak tahu sebenarnya hubungan kita berdua ini hubungan apa.

Pastinya (ini inginku), semoga dalam waktu dekat ada kepastiannya. Jangan terlalu lama. Bukan berarti kesabaran itu ada batasnya, lebih ke aku tidak mau menunggu yang sia-sia.

Itu saja.

Itu saja.



Read More ...

8 comments

Kamu pernah(?), melihatnya, merasakannya, ingin mengatakannya, tapi tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa?
Kamu pernah(?), berharap kalau bisa menghentikan waktu dan mengulangnya kembali? Berharap kalau semuanya hanya mimpi?
Kamu pernah(?), menyesali apa saja yang terlanjur terjadi dan apa saja tidak berani kamu katakan atau lakukan?

Kamu pernah(?), berjalan mendekati orang yang sangat kamu cintai, tersenyum lebar, menjabat tangannya erat sambil berkata, “Selamat, aku ikut bahagia.
Dan kamu tahu (dia pun tahu) itu hanya kebohongan untuk menutupi semua kecanggungan saat itu dan kesedihan setelahnya.

Kamu juga tahu kalau kamu tidak akan bisa memilikinya lagi. Tidak lagi. 










Read More ...

15 comments

Kadang aku kangen kamu.

Kangen meluangkan waktu bersama, berdua. Ngobrol sekonyol-konyolnya, atau bermain tebak-tebakan dari yang jelas sampai yang tidak jelas juntrungannya.

Itu yang membuatku tidak bisa lupa. Bagaimana kamu bisa membuatku nyaman tanpa membutuhkan perjuangan. Cukup ada di sana, menjadi diri kamu tanpa harus berpura-pura, dan aku bisa mensyukuri setiap detiknya.

Itu yang membuatku jatuh cinta.
Aku, di depanmu, tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu harus berusaha keras terlihat pintar atau bisa bercanda. Cukup di sana, menemanimu berbicara.
Seperti itu saja aku sudah bahagia.

Kadang aku kangen kamu.

Kangen ngobrolin komik atau film berdua. Berdebat entah apa tapi bercanda lagi setelahnya. Kembali nyaman berdua.

Lalu aku akan memperhatikan detail kamu. Pakaianmu warna apa, pakai sepatu apa, parfummu merk apa. Dan kamu akan tersipu karena aku memperhatikanmu sampai sekecil itu.

Masih ingat kalau ada seseorang yang bisa dengan melihatnya saja otomatis bisa membuatku bahagia begitu saja? Kamu pasti tahu orangnya. Kita berdua tahu orangnya. Kita hanya tidak pernah benar-benar membicarakannya.

Kadang aku kangen kamu.
Nyamannya, rasanya, hangatnya di dada pas kamu tertawa. Ja-tuh cin-ta-nya.

Kadang aku kangen kamu.
Terutama saat aku merasa kekasihku tidak terlalu peduli denganku.

Read More ...

39 comments



Aku ingat ketika kamu memasuki ruangan, dan aku seperti... pernah merasa bahwa semua pandangan seolah menyempit pada satu titik? Mungkin seperti itu. Selalu seperti itu setiap hari Rabu.

And there. Look at you. Berjalan dengan percaya diri, tersenyum menyapa teman-temanmu sambil entah bercanda tentang apa. Mungkin aku tidak mendengarnya atau mungkin fokusku diambil sepenuhnya oleh kamu sampai aku tidak bisa mendengar apa-apa.


Sebelum duduk, kamu sempat melihatku, tersenyum (Atau setidaknya menurutku itu memang kamu tersenyum kepadaku). Aku berdebar. Kencang. Lalu ikut tersenyum. Merasa senang karena kamu melihatku. Kamu, yang setiap hari Rabu, akan berenang di gedung sebelah dan akan berkumpul di sini bersama teman-temanmu. Menikmati semangkok mi (biasanya) dan juga es lemon tea. Aku, yang setiap Rabu, akan duduk di pojokan sebelah kiri pintu belakang (tempat paling tersembunyi) menikmati secangkir kopi dan roti selai stroberi. Mengeluarkan buku untuk kubaca sambil sesekali mencuri pandang ke arahmu.

Lalu akan menikmati pemandangan punggungmu (kalau beruntung sering wajah sampingmu jika sedang bercanda dengan teman lainnya). Kamu selalu memilih kursi yang menatap pintu masuk. Aku tidak tahu alasannya, tapi kamu selalu di posisi itu. Dan sepertinya teman-teman kamu sudah mengerti itu, karena aku lihat tempat itu selalu sengaja dikosongkan sebelum kamu datang. Jadi, posisiku selalu hanya bisa melihat punggungmu, kecuali tentu saja saat kamu masuk ruangan atau mengambil sedotan di kasir yang letaknya tegak lurus dariku.

Kalau berjalan masuk, ada urutan meja sebelah kiri dan kanan. Dan kalian akan berkumpul di meja nomor tiga dari pintu bagian kiri. Itulah kenapa aku selalu bisa menikmati kamu. Berlama-lama sampai kamu pergi entah ke mana lagi setelah itu.

Hari ini berbeda. Hari ini, aku masih di tempat yang sama, karena aku selalu memesan tempat ini setiap hari Rabu beberapa jam sebelumnya. Tetapi kamu, kalian, tidak di tempat biasanya. Aku juga tidak tahu kenapa hari ini banyak abg yang ke tempat ini. Satu-satunya tempat kosong hanyalah meja di sampingku. Tempat tersembunyi kedua di cafe ini. Sering kujadikan cadangan kalau tempatku yang sekarang sudah dipesan orang terlebih dahulu.

Mungkin karena itulah kamu tadi bisa melihatku, tersenyum kepadaku, hal yang selalu kuhindari dan karena itu aku selalu memilih tempat paling pojok dan paling belakang. Tetapi kata sebuah buku yang kubaca, secara psikologi, aku sebenarnya menginginkan hal yang aku hindari. Menginginkan kamu melihatku, tersenyum kepadaku. Tapi (secara psikologi lagi), aku terlalu takut jika memang ternyata ada kesempatan itu, apakah benar-benar kamu akan melihatku, menyapaku? Jadi, sebenarnya bukan kamu yang kuhindari, tetapi 'hasil yang tidak diinginkan' yang kuhindari sehingga aku memilih tempat yang tersembunyi. Terlalu takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, membuat kita tidak berani mengejarnya.


Kali ini, aku tidak memandang punggungmu lagi. Aku bisa memandangmu penuh dari sudut diagonal, sehingga bisa melihat kamu tertawa, berbicara, berwajah serius, semuanya. Sepuas-puasnya. Aku menikmatinya tapi malu kapan pun aku ketahuan melakukannya olehmu. 

Lalu kamu berjalan. Mendekat.

"Hai," katamu.

Aku tersenyum untuk menutupi kegugupanku.

"Hai," balasku.

Dia mengulurkan tangan, tersenyum, dan aku menjabat tangannya. Hangat.

"Arya," katanya. O, namanya Arya.

Kalau ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kulupakan, momen ini akan menjadi salah satunya.

"Jadi," katanya, "setiap hari Rabu, kamu akan duduk di sini, di tempat paling tersembunyi, memesan kopi dan roti selai stroberi, membaca buku, sendiri. Kecuali hari ini. Hari ini akan juga ada aku."

Bumi seperti berhenti bergerak.

Dia tersenyum.


Read More ...

18 comments

Tau



“Dia bukan siapa-siapa. Teman biasa. Jangan curigaan, ah!” katamu.

Ya, aku tau. Aku tahu ceritamu dan dia. Kalian bersahabat sejak SMA. Aku tau. Tidak ada cinta. Aku tau. Tau kalau selalu itu yang kamu ceritakan kepadaku.

Aku hanya mau tanya. Bagaimana kamu akan menjelaskan senyummu yang bisa otomatis muncul begitu saja ketika tidak sengaja bertemu dengannya? Bagaimana kamu akan menjelaskan kecepatanmu yang dengan segera menjawab telepon atau WA-nya? Bagaimana kamu akan menjelaskan betapa sering dengan tidak sengaja kamu bisa tiba-tiba bercerita tentang dia dengan begitu semangatnya?

Ya, mungkin karena kalian sudah mengenal dan dekat begitu lama. Ya, tentu saja. Dua orang yang kenal dan sering bersama dalam waktu lama bisa sangat dekat dan tidak akan lupa. Baiklah, mungkin memang seperti itu.

Aku menenangkan hatiku dengan cara itu.

Tetapi, itu dulu.

Lalu pada suatu acara reuni kalian, dia membacakan puisi. Ketika namanya dipanggil, kamu mungkin tidak tahu aku memperhatikanmu. Kamu terlalu fokus pada senyum dan berbinarnya matamu mengikuti langkahnya ke panggung. Dan ketika dia membacakan puisi, kamu lupa segalanya. Lupa kalau ada aku di sana, di sampingmu, memperhatikanmu yang matamu seperti lengket kepadanya dan senyummu seperti default kalau ada dia di jangkauan mata.

Kamu mencintainya. Masih mencintainya. Tidak pernah tidak. Aku tau. Semua terlihat terlalu jelas dari cara kamu melihatnya. Tidak ada orang yang bisa menyembunyikan cinta sebesar itu di matanya.
Aku tidak tahu harus bersedih atau lega karena akhirnya kecurigaanku memang nyata.

Kalau cinta itu masih penuh dengan dia, aku kamu sisakan berapa?

Oya, kapan kamu bisa menerima kenyataan kalau dia sudah menikah dengan seseorang?






------------------------

*Sengaja menuliskan kata ‘tau’ yang sebenarnya EYD nya adalah ‘tahu’. Untuk kali ini, karena judulnya akan ambigu jika ditulis ‘Aku tahu’. Orang mungkin akan berpikiran ‘kenapa kamu bukan tempe?’
Read More ...

11 comments



Teman kita pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya, ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan.

Dua orang itu juga selalu menjadi perhatian teman-temannya. Mereka akan menggoda, menjodoh-jodohkan keduanya. Dua orang itu akan tersipu begitu saja.

Teman kita pernah bercerita.

Dua orang itu pernah menjadi dua orang yang saling jatuh cinta, tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama. Terlalu lama.

Sampai salah satu bosan menunggu, dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama.

Dua orang yang saling jatuh cinta, tetapi tidak pernah bersama.

Kata teman-teman, dua orang itu adalah kita.





Read More ...

9 comments


Aku menuntutmu mencintaiku seolah-olah belum pernah ada yang menyakitimu. Lepaskan luka-lukamu yang dulu, lepaskan bahagiamu yang dulu. Kamu sudah bersamaku, bukan bersama masa lalumu. Jadi, jangan mencintai orang yang baru dengan hati lamamu.

Aku menuntutmu untuk memberikan hati dan pikiran baru. Aku bukan dia, dia, atau dia. Fisikku tidak sama, sidik jariku pun tidak sama, apalagi sifat-sifatku. Kamu tidak bisa mengharapkan aku memiliki tingkat humoris seperti dia, tidak bisa mengharapkan aku memiliki kebiasaan seperti dia. Tapi aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahagiamu lebih besar dari mereka semua.

Aku yang bersedia menerimamu yang sekarang, bukan mereka. Aku yang bersedia bersamamu berlama-lama, mendengarmu bercerita, atau menemanimu keliling kota. Aku. Bukan mereka.

Jadi, berhenti membandingkan. Mulailah melihatku.

Aku mencintaimu, sekarang. Kamu. Kamu yang sekarang. Bukan kamu yang dulu meski aku menerima masa lalumu apa pun itu. Tapi jangan hidup di masa lalumu kalau menginginkan bahagia baru.

Aku bukan siapapun di masa lalumu.

Jangan hidup di masa lalu. Hiduplah bersamaku.


Read More ...

2 comments

Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita datangi, warung mi ayam langganan kita, atau kacang rebus pinggir jalan di pojok perempatan dekat pos polisi. Rasanya sama, tetapi tetap suasananya berbeda.

Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati setiap detiknya. Sekarang, aku ingin semua berlalu secepatnya. Sayang sekali, semua tempat itu adalah tempat yang memang aku sukai, jadi mau tidak mau, aku akan ke sana menikmati hari.

Setiap kali di tempat-tempat itu, bermunculan kamu di mana-mana. Di depanku sambil tertawa, membeli kacang rembus sambil bergurau dengan penjualnya karena seringnya kamu membeli darinya, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku menambahkan empat sendok sambal ke mi ayamku. Kamu tahu aku selalu melakukannya, tetapi kamu tetap merasa heran setiap kali melihatku memasukkan begitu banyak sambal ke makanan apa saja.

Read More ...

6 comments



Dua tahun mengenalmu, membuatku hafal dengan kebiasaanmu.

Yang selalu menambah satu air mineral kalau memesan minuman apa pun. Katamu, yang manis untuk nongkrong sama aku, yang air mineral untuk hausmu.

Yang selalu geleng-geleng kepala setiap aku memborong buku atau sedang mengetik fiksi untuk blogku.

Yang selalu tertawa melihatku menghirup aroma kopiku sebelum meminumnya.


Read More ...

2 comments


Kadang-kadang, aku kangen kamu. Kangen ketika kita sering ngobrol dan tertawa dulu. Kangen ketika kita berdua duduk berhadapan dengan secangkir kopi Lampung hitam di mejaku dan secangkir teh melati di mejamu. Kangen menemanimu bercerita seolah sebuah kamus humor berjalan yang memiliki stok cerita lucu yang tak ada habisnya.

Atau kangen ketika berkaraoke berdua, dengan suaramu yang ngebass dan sering falsnya tapi dengan pedenya terus berteriak-teriak dengan entah nada apa. Saat lagunya sedih kamu akan pasang juga muka sedih, sok serius menghayati lagu.


Read More ...

2 comments



Kita tidak akan berbicara tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau bagaimana lelahnya aku untuk berusaha melepaskanmu setelah itu. Itu tekadku hari ini.

Aku tidak mau membahasnya. Biar aku yang merasakannya, dan menyimpannya. Karena seberapapun aku menjelaskannya, kalau tidak mengalami sendiri kamu toh tidak akan mengerti. 

Sekarang, aku mengambil risiko besar ini, dengan menemuimu. Risiko yang dulu tidak berani aku ambil karena takut hatiku juga bisa kembali kamu ambil. Tetapi, kali ini aku sudah siap. Karena meski hatiku sudah melepasmu lama, tetapi pikiranku baru saja bisa melakukannya. Jadi, ini, aku di sini. Menguji mata, hati, dan pikiranku untuk menemuimu kembali. 

Read More ...

19 comments



Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.

Jika sudah ngobrol, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali. 

And then, there’s voices in my head, says, ‘Let's talk, and I will happy till the sky get dark’.

Kalau kamu sudah mulai menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don’t you know that it's funny how you can always make me laugh (or should I say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa. 

Itu menyenangkan. Kita, melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia di dalamnya. Tidak muluk-muluk. Tidak harus ke Bali, atau belanja ke Singapore. Tidak harus ke Dufan atau ke menara Eiffel. Cukup seperti ini saja. Ngobrol berdua, dengan kebegoan-kebegoan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selama bersamamu, aku bisa bahagia.'

Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tanpa kamu tahu, dari sana aku mulai bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya. Di situlah aku mulai jatuh cinta. (Apa kamu mengetahuinya?)

Dan tiba-tiba, jatuh cinta tidak lagi sebuah 'old crap' atau 'alay'. Something that i used to believe in. Its real. I fall in love when you smile. I fall in love when you move your eyebrow up and down. I fall in love when you just sit there and read a book. I fall in love when you close your eyes, with your headphone and your lips mumbling making some voice of a song. I fall in love with whatever you do.

I fall ini love with you. Damn! I just know that 'falling in love' is real. Not a myth, not a bullshit thing.

Sampai akhirnya, kalau ada yang bertanya, bahagia itu apa? Aku ingin menjawab, "kamu." Satu kata itu saja. Satu saja. Itu sudah menggambarkan segalanya. Tapi tidak ada yang pernah menanyakan itu, dan aku khawatir tidak akan berani menjawab seperti itu. Jadi, aku aman.

Tentang cinta diam-diam itu, mereka sering mengatakan, ‘Katakan saja!’. Ya, mudah mengatakannya, sulit mempraktekkannya. Karena setiap kali aku mau mengatakannya, lalu melihat kamu tersenyum saja, nyaliku rontok begitu saja. Bertanya-tanya risikonya. Kalau ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama, apa kita masih bisa seperti ini, sedekat ini? Karena kalau tidak, lebih baik aku tidak mengatakannya. Biar seperti ini saja.

‘Cause I love you without any 'terms and conditions'. Without you should love me back or we have to be together eventually. It just love and love its all. It just me, that can take anything as long as you happy. 

Its stupid, but i can take it.

But, in the end, i know the risk. Kita akan selalu menyesali tidak hanya apa yang terlanjur kita lakukan, tetapi juga apa yang tidak pernah berani kita katakan atau lakukan. Dan, ya, aku menyesalinya. Menyesali kenapa aku dulu tidak pernah mengatakannya.

Karena waktu berlalu, begitu juga kesempatanku. Terlambat mengetahui kalau kamu pun dulu punya rasa yang sama sepertiku. Sepertinya benar kata orang, hanya karena dua orang pada akhirnya tidak bersama, belum tentu keduanya tidak pernah saling jatuh cinta.

Masih ingat yang aku katakan kalau kita ini seperti sepasang? Ya, benar, ada kata 'seperti'. Hanya seperti. Tidak pernah benar-benar sepasang, atau benar-benar berduaan berbagi gombalan.

Cinta di udara, katanya. Love is in the air. Mungkin karena itu cinta tetap di udara, tidak benar-benar bersama kita. Karena pada kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar 'sepasang'. Hanya diberi kesempatan untuk memandang bintang yang sama dari tempat yang berbeda. Bersyukur bahwa sejauh apa pun jaraknya, kita bisa menikmati hal yang sama. Diberi kesempatan untuk merasakan cinta dan membatin, alangkah menyenangkannya kalau kita bersama. Diberi kesempatan untuk belajar melepaskan pada saat justru sedang merasa nyaman.

Mungkin Tuhan memang membuatnya demikian, untuk mengajarkan kita tentang kebersamaan (dan mungkin keberanian?) dan kenangan (mungkin termasuk melepaskan?). Karena pada akhirnya, love is love and life is life. You can not guess what will happen next. You just have to just accept it,and go with it. Kamu bersama seseorang yang memang untukmu, dan aku pada akhirnya juga bersama seseorang yang memang untukku. Berbahagia sendiri-sendiri dengan orang lain.

Tetap bisa bahagia, meski tidak bersama. 

Kadang-kadang, aku ingin pada suatu hari kita akan bertemu lagi. Kamu membaca buku sambil mengayun-ngayunkan kakimu--mungkin sesekali minum sirup dingin di mejamu, dan aku menikmati musik dari hpku. Bahkan tanpa kita berbicara, aku bisa bahagia hanya berada di sana. Bersamamu, berdua. Kita, melakukan hal-hal sederhana dan berbahagia di dalamnya.

Well, in the end, we have to accept the reality. Tentang kita. Tentang kenyamanan yang pernah tercipta, meski harus berakhir juga pada akhirnya.


Sampai bertemu nanti. Kalau Tuhan mempertemukan kita lagi. But even its just a memory, would you say 'Hi' when you see me?





*By the way, dulu pada masa kita, aku pernah menjaga rinduku dengan kadar yang selalu sama setiap harinya, apakah kamu juga?





Read More ...

10 comments



Aku bisa saja tetap ‘mengganggumu’ dengan pesan-pesan ‘Apa kabar?’ atau ‘Lagi apa?’-ku. Aku bisa juga meneleponmu hanya untuk mendengar suaramu dan membuatmu terbiasa dengan perbincangan-perbincangan kita maupun keberadaanku. Apapun selama aku bisa sekadar menyiratkan, “Hai! Aku di sini. Aku ada. Lihat aku.”

Aku bisa saja tetap berharap kalau suatu saat kamu akan memberikan bunga, mengatakan kalau kamu menyadari perasaanku dan kamu merasakan yang sama. Harapan yang tidak juga hilang meski sudah berusaha berulang kali kulupakan.

Aku bisa terus menganggap kamu yang terbaik untukku, tidak ada yang lain. Lalu mengabaikan orang-orang di sekelilingku. Mengabaikan kelebihan-kelebihan mereka karena aku hanya terfokus pada kelebihan-kelebihanmu. Kamu, dan hanya kamu. Seperti ada banyak lilin di suatu ruangan, tetapi hanya satu lilin yang aku perhatikan.

Aku bisa saja terus memikirkan cara bagaimana untuk mendapat perhatianmu, bagaimana agar kamu tahu di sini selalu ada aku, lalu terus berusaha sampai kamu bisa mengerti kalau aku tidak pernah beranjak pergi. 

Aku bisa saja tetap di sini, menunggu. 

Tetapi, seberapa lama pun aku menunggu, hasilnya akan sama saja kalau bahkan kamu saja tidak pernah berpikir tentangku.


Read More ...

13 comments


Dengar, jangan lakukan apa-apa, jangan katakan apa-apa. Cukup baca dan pahami saja. Kamu tidak perlu membalasnya, tidak perlu juga terlalu memikirkannya.

Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, kamu punya emailku, punya sosial mediaku untuk membaginya. Aku pasti akan membalasnya secepat aku bisa.

Kalau kamu butuh bahuku, selama memungkinkan aku juga bisa mengusahakan untuk ke sana. Bahuku untukmu kapan saja. Untuk bersandar ketika kamu lelah dengan dunia, atau untuk sekadar menyandarkan bahagia agar tidak berlebihan dalam menanggapinya. Mungkin tidak seberapa, tapi kadang hanya itu yang aku punya untuk bisa melihatmu kembali tertawa seperti biasanya.


Read More ...

6 comments



Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa. 

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kremes kesukaanku, teh melati hangat, atau membaca buku. Masih bisa berjalan-jalan ke mall, menonton film, atau ke pantai yang aku suka. Masih bisa bekerja dan bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu masih ada.

Read More ...

15 comments


Aku tidak pernah lupa.

Aku tidak pernah lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita tidak melakukan apa-apa, selain berbincang saja. Entah apa pun temanya, aku menikmatinya. Dari yang paling ringan tentang buku, film, sampai hal berat  seperti politik dan negara. Kita sering berbeda pendapat, tentu saja, terutama tentang politik dan negara. Tetapi tidak pernah masalah, karena justru bedalah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa berdebat di sana.

Aku tidak lupa juga, bagaimana hanya dengan melihatmu, aku bisa tersenyum begitu saja. Aku tahu itu cinta, aku hanya tidak tahu apa kamu sebenarnya mengetahuinya. Kenapa juga kamu mau di sini bersamaku berlama-lama? Kenapa kamu selalu menjadikanku yang pertama kamu hubungi jika ingin berbicara? Cinta juga?

Tetapi aku tidak pernah (berani) menanyakannya. Terlalu takut juga untuk mengira-ngira kalau itu harapan. Jadi, aku tetap diam saja dan menikmati kapanpun kamu ingin aku di sana.

Aku juga ingat pada saat kita sering menyanyi bersama. Lagu-lagu Adele (kamu sering mengejanya A-de-le, dengan dele nya seperti kata kedelai di bahasa Jawa), Sheila on 7, Padi, Cokelat, Katy Perry, Natasha Beddingfield, John Mayer, dan lain-lain. Sampai aku suatu ketika memetik gitarku dan menyanyikan lagu yang masih asing bagimu.

           Broken pieces
A hundred kisses
A million views
Pictures of you
Read More ...

17 comments


Ya, aku tahu. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Ya, aku juga tahu. Sebenarnya sudah bukan waktunya lagi aku berbicara mengenai cinta, rindu, atau apa pun yang berkaitan dengan itu.
Tapi, Fey. Kadang-kadang aku memang kangen kamu. Kangen obrolan kita. Kangen meluangkan waktu bersama. Kangen melihatmu menggodaku sambil tertawa.
Kalau menurutmu aku sengaja mengingatnya, tidak juga. Aku tahu berdasar pengalamanku, Fey. Tidak seharusnya mengingat masa lalu jika memang sedang berusaha melupakan masa lalu. Itu sama saja berniat ke arah selatan, tapi kita berjalan menuju utara. Jadi kangen kamu itu bukan sesuatu yang kusengaja. Itu terjadi begitu saja. I dont want it, but it just happen like it.
Read More ...

8 comments



Kalau suatu hari kamu bertanya apa yang paling bisa membuatku bahagia, aku akan menjawab, "Kamu saja."*



---------------
Read More ...

10 comments