Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

To : wardani.ema@gmail.com
Subject :

Oke, bukan karena aku.

Aku hanya meminta pertolonganmu karena hanya kamu yang bisa kumintai tolong dalam masalah ini.

Aku akan ke Jakarta. Kita akan ngobrol di sana.

Aku gak sinting, Em. Dan aku memang pelengkap hidupmu. Kalau kamu belum merasakannya sekarang, beri aku kesempatan untuk membuktikannya nanti.

Hei, dan aku gak gagal ya, Em. Inget itu. Ini hanya Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk tidak melihat orang lain, dan membuatku melihatmu. Melihat seseorang yang sebenarnya sudah sangat-sangat melengkapiku. Bukankah menyenangkan hidup bersama seseorang yang bisa melengkapinya?

Aku akan ke Jakarta. Lalu aku akan sesering mungkin ke sana. Kita akan berusaha membangun cinta. Setidaknya, biar aku melakukannya. Lagipula, daripada jatuh cinta, lebih baik membangun cinta. Kalau kita sendiri yang membangun cinta itu, kita akan merasa eman-eman kalau dihancurkan oleh kita sendiri nantinya.

Jadi, tunggu aku di Jakartamu. Kita lanjutkan obrolan yang menurutmu sinting tapi menurutku pencerahan ini di sana. Inget ya, kalau kamu tidak mau menemuiku, aku akan mendatangi kantormu saat makan siang. Setiap hari kalau perlu. Kamu... harus ... menemuiku. Titik.
Read More ...

1 comments

To: wardani.ema@gmail.com
Subject:

Iya. Maaf.

I got to do what i have to do. Dan itu bukan hal buruk kok, Em. Mama papa kamu suka. Mereka malah bilang setuju. "Daripada dapat orang lain, mending Ema dapat mas Adit. Orangnya jelas, sudah kenal dekat, keluarganya jelas. Bibit, bebet, bobote wes ono." Begitu kata mereka, Em.

Semua orang mendukung ini lho, Em. Akan menjadi kejutan juga bagi teman-teman kita yang dulu selalu menjodoh-jodohkan kita dan yang mengira kita pernah pacaran.

Sekarang, tinggal aku ke Jakarta. Ngobrol sama kamu. Lalu ngobrol sama Romo dan ibuku.

Em, kalau memang kamu belum bisa memiliki rasa denganku. Kita bisa usahakan bersama. Seperti aku bilang, jika orang yang baru pertama kali mengenal saja bisa kemudian saling mencintai dan menikah, kenapa orang yang sudah mengenal belasan tahun tidak bisa? Seharusnya lebih mudah?

Dan, kalaupun tidak bisa nanti, atau kamu ternyata menemukan pria lain, yang bisa kamu cintai dengan benar, aku rela kok melepasmu. Kita bisa bercerai. Kalau perlu, tidak usah kita melakukan malam pertama dan malam-malam selanjutnya.

Hanya kita yang tahu tentang perjanjian itu.

_____
Balasan dari surat ema yang ini: What If?

Read More ...

1 comments

To: wardani.ema@gmail.com
Subject: 
Hemmm. Gimana ya ngejelasinnya?

Oke. Awalnya, mungkin iya. Its all about me. To save me, to save my ass.
Tapi beberapa hari ini aku juga mikir, Em. Swear. Gak ada yang lebih baik dari kamu untuk menjadi pendampingku.
Lihat, kamu kenal aku sudah lama. Dari remaja. Kalau aku ada apa-apa tebak ceritanya selalu sama siapa? Meski kita udah jarang ketemu, kita masih komunikasi kan? Lewat telpon, email, bbm, facebook, twitter.
Kalau aku dekat dengan cewek, siapa yang pertama kali tahu? Kamu. Meski aku gak pernah ngomongin itu. Kamu selalu melihat tanda-tandanya dari facebookku atau twitterku. Kamu akan bbm nanya lagi deket sama si A ya? See? Kamu selalu tahu.
Pas aku mau usaha warung makan Moro Lenggah ini, siapa yang aku ajak konsultasi? Kamu.
Tentang Dira, siapa yang aku ajak cerita untuk melamarnya atau tidak? Kamu. Meski kamu di awal bilang dipikir dulu, jangan tergesa, aku yang tetap nekat. Aku salah. Kamu benar. Aku patah, dan berceritanya juga kepada siapa? Kamu.
Em, kamu yang selama ini paling tahu apa yang terbaik untukku dan yang bukan. Kamu, kamu, dan kamu.
Aku tidak tahu apa bagimu aku juga sama, tapi pikirkan dulu tentang apa yang aku katakan ini.
Aku akan tetap ke Jakarta, meski tanpa izinmu. Aku tungguin kamu di kos kalau perlu. Kalau sampai berhari-hari kamu menghindari aku di Jakarta, aku akan mampir ke kantormu jam makan siang. Aku gak akan ganggu kerjaan kamu. Aku janji. I just need to talk.
Beri aku kesempatan itu saja.

 ----
Balasan dari email Ema yang di sini: What If?



Read More ...

2 comments



To: wardani.ema@gnail.com
Subject: 

Oke oke, my bad.

Iya, tahu. Pernikahan gak cuma itu. Iya, tahu juga. Aku bersikap egois dengan mikirin diri sendiri. Tapi waktu bergerak, Em. Aku gak mau romo sama ibu mendapat malu. Apalagi bulan depan ada rapat keluarga besar. Romo dan ibu belum tahu rencana pembatalan pernikahanku itu. Argh aku bisa gila ni, Em.
Oke. Begini saja, ayo kita coba dulu. Kita sudah kenal sejak lama, kan? Aku tahu apa yang akan membuatmu marah dan bete seketika. Aku juga tahu apa saja hobi kamu. Aku tahu mimpi-mimpi kamu yang sudah tercapai dan yang belum. Aku tahu mungkin 80% tentang kamu, Em. Kamu akui itu atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya. Dan kamu pun tahu hampir semua tentangku. Aku rasa kamu juga sangat tahu aku bukan orang yang berkemungkinan selingkuh, tidak pernah juga aku kasar sama cewek. 

Ayolah, Em. Mbok dipikirin dulu.

Kita bisa mencoba. Masak dari dua orang asing saja bisa menikah, saling mencintai, dan bahagia, kita yang sudah mengenal belasan tahun tidak bisa. 

Em, kita masih punya waktu lima bulan lebih. Kita bisa berusaha saling mencintai. Pasti ada sedikit rasa darimu untukku, dan dariku untukmu. Kita hanya tinggal menumbuhkannya saja. 


_____
Jawaban dari email Ema
Read More ...

0 comments

To: wardani.ema@Gmail.com
Subject:


No, no, no.

Tetep harus diomongin. Ayolah, Em. Help me on this.

Gak ada ruginya kok. I promise you.

Let's get married. Mumpung aku belum ngomong romo dan ibu tentang Dira.

Atau aku harus ke sana dan ngobrol membujuk kamu? Oke. Gak apa. Tentukan waktunya saja.

Dan Darius? Gantengan aku kali, Em. Jadi, gak rugi kan kalau punya suami kayak aku? Hahaha.

Boleh kok pakai syarat. Bilang aja syaratnya apa. Asal jangan minta yang mahal-mahal saja.


------
Surat ini adalah jawaban dari surat Ema; What If untuk Adit.

Read More ...

0 comments

To: wardani.ema@gmail.com
Subject: 


Yaelah, Em. Apa susahnya mikir sebentar. Gak rugi juga lho ya. Belum dipertimbangkan kok udah ngomong ogah. Pakai Capslock dan panjang lagi.

Hei, daripada kamu nanti dapat yang gak bener lho. KDRT misalnya, atau diselingkuhi sana-sini, atau apa kek yang buruk-buruk.

Lagipula aku gak jelek-jelek amat. Masih wangun kalau diajak ke kondangan. Kan itu katamu dulu. Yang penting kalau ke kondangan gak malu-maluin.

Ya udah, sini. Ke Jogja aja. Kita bahas bareng-bareng. Kamu udah lama juga gak silaturahmi ke sini kan? Ke romo ibu. Siapa tahu romo ibu makin kesengsem sama kamu. Ya tho?

29 nih kamu tahun ini. 29 lho. Aku ngingetin saja.
 Think about it.


_____
 Balasan dari email Ema yang di sini: What If?


Read More ...

0 comments



Kalau kamu membaca ini, kamu pasti mengerti rasanya rindu, tapi tidak bisa mengatakannya kepadamu.

Baiklah, mungkin bukan rindu tentangmu (kamu sering mengatakan itu), tapi rindu tentang kehangatan perbincangan kita. Bukan orangnya. Kalau memang iya, kalau memang aku hanya rindu peristiwanya dan bukan orangnya, bukan kamu, bisakah kamu datang dan kita berbincang lagi lain kali? Aku berjanji tidak akan menyinggung tentang kita. Kita adalah masa lalu. Jadi, memang tidak sebaiknya hidup di situ.


Read More ...

1 comments

To: wardani.ema@gmail.com
subject:


Ya pakai mikir lah, Em.

Nih ya, mumpung aku belum bilang sama romo dan ibu kalau pernikahanku dengan Dira batal. Jadi, kalau aku tetap menikah, meski gak sama Dira, mungkin romo dan ibu gak terlalu kecewa.

Apalagi menikahnya sama kamu. Romo dan ibu kan sudah kenal kamu dari SMP, Em. Pasti diterima.

Ya, ini aku agak egois sih. Tapi, pikirin dulu deh, Em.

Jangan berpikir ini kayak cerita sinetron atau film saja, menikah sembarangan. Gak sembarangan kok. Pertimbangannya, keluarga kita sudah kenal sangat dekat. Kamu dan aku juga sudah kenal dari SMP lho.

Terus kan kamu juga ke mana-mana ditanya kapan menikah. Apalagi tahun ini kamu 29 tahun. Bukan maksud bilang kamu gak laku. Pasti banyak yang naksir. Tapi setahuku kamu ini kan suka milih-milih. Kayak aku, sukanya milih-milih. Makanya menikahnya telat.

Just think about it. Berhari-hari juga gak apa deh.


____
Balasan dari surat Ema yang ada di sini: What If?
Read More ...

0 comments


Aku ingin melihat mata cokelat gelap itu lagi. Dengan rambut yang dipotong sebahu itu lagi. Aku bisa tenggelam berlama-lama di sana. Di mata itu dan di wangi rambutmu.

Aku ingin membuatmu tertawa lagi, dengan cerita-cerita yang aku cari dari buku atau internet untuk keceritakan padamu di malam hari sambil ngopi. Katanya, orang sering bisa dibuat jatuh cinta hanya dengan membuatnya sering tertawa. Tapi aku melakukannya tidak untuk membuatmu jatuh cinta meski aku tak berhenti memimpikannya. Aku melakukannya karena aku memang suka melihat kamu tertawa. Kalau memang ternyata kamu bisa jatuh cinta, mungkin itu hanya bonus saja.


Read More ...

2 comments

To: wardaniema@gmail.com
subject: 


3 tahun lalu, Em. Pas aku ke Jakarta nikahannya Handoko. Itu terakhir kali ketemu. Kamu masih sama siapa itu, Bayu kalau gak salah namanya?

Ya gak melo juga kali, Em. Memang kenyataannya lagi jatuh gini.

Tahu, Em. Tahu. Ngerti. Pada akhirnya juga romo dan ibu akan tahu. Tapi praktek gak pernah semudah teori, lho, Em. Kayak mau bungee jumping, kelihatannya mudah, tinggal terjun. Kelihatannya. Tapi kan bagi orang yang takut ketinggian, tetap gak akan mudah.

Tapi ide kamu bagus juga sih. Coba nanti Minggu aku ajak romo sama Ibu ke pemancingan. Idep-idep ngerayain sesuatu gitu. Nanti ngomong di sana. Kalau berani lho ya, kalau berani.

Halah, Dira mah pret!

Suka-suka dialah mau ngapain juga. Nanti aku cari yang lebih cantik, lebih menarik, lebih nyenengin. Sumpah, dendam bener aku ini. Pengen buat dia nyesel.

Eh, Em. Mmmmm. Sebenarnya ada hal lain sih yang mau kuomongin, tapi ntar aja deh. Lupakan.


______
What If surat Ema sebelumnya ada di sini: What If 12.


Read More ...

0 comments


Aku menulis ini untukmu. Untuk semua tawa yang sudah kamu buat dan untuk ingatanku yang sudah kamu ikat.

Aku tidak menyesali semuanya meski pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Kamu sudah pernah membuatku tertawa, itu sangat cukup, lebih dari cukup. Dan aku juga menikmati setiap perbincangan kita, menikmati proses menunggu pagi setiap hari agar selalu bisa berbincang denganmu lagi, menikmati ceplas-ceplosnya kamu, menikmati komentar kamu tentang berbagai hal di depanmu. Kita pernah memiliki waktu yang sangat menyenangkan berdua, bersama.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua perbincangan kita yang bisa aku ingat dan untuk perpisahan kita yang pernah membuat matamu sembab.


Read More ...

3 comments


Kamu sih, ngerasanya memang kayak gampang saja, Em. Tinggal ngomong. Tapi yang di sini ngadepin, gak segampang itu, Em. Kapan pun sudah di depan romo, lihat matanya saja, langsung inget kalau aku gak mau dia sakit, kecewa, atau marah. Itu yang nahan apa pun di mulutku, Em. Aku gak mau dia kenapa-kenapa.

Nah, itu, Em. Itu. Momen yang tepat. Itu yang belum ketemu. Jadi kalau sudah ketemu momennya, ngomongnya juga enak. Meski tetap romo dan ibu kecewa sih.

Tentang harus nunjukin ke Romo, kalau aku baik-baik saja, sih, aku kayaknya bisa. Kecewa iya, marah, apalagi. Tapi mau gimana lagi. Wong kenyataannya juga seperti itu. Diteruskan juga malah gak baik. Dipaksa juga gak mungkin, tho? Dira malah bisa dendam nantinya.

Aku agak reda kok sekarang, marahnya. Sudah gak meluap-luap seperti kemarin-kemarin. Kecewanya tetap. Gak akan ilang kayaknya, gak akan lupa juga.

Tapi yo wes lah, ya, Em. Yang penting memang ngomongnya ke romo. Itu dulu.

Read More ...

0 comments

To: wardaniema@gmail.com
subject:


Yap, beneran. Sekarang tinggal bagaimana caranya ngomong ke romo.

Kemarin sih romo nanya baju ijab dan resepsinya sudah apa belum, aku bingung, Em. Ya sudah aku jawab saja belum.

Aku belum siap ngomong sama romo, Em. Nanti saja ya. Aku rancang dulu saja cara ngomongnya.

Dipikir-pikir kamu bener juga sih, Em. Masih mending Dira ngebatalinnya sekarang, kalau tinggal sebulan lagi pasti katering sudah pesan, baju sudah siap, undangan sudah nyebar. Kalau sekarang yang tahu sih masih orang-orang dekat saja. Masih memalukan, tapi mungkin gak sebesar kalau sebulan sebelum acara kemudian batal. Iya, mungkin karena Allah masih sayang aku, ya, Em.

Eh, tapi aku tetep marah sama Dira. Gadis bodoh dan egois. Kekanak-kanakan dan gak bertanggung jawab.


Read More ...

0 comments


Orang yang pernah menjadi yang paling aku sayang, sedang di depanku sekarang.

Dia masih menggenggam cangkir teh hangatnya dengan dua tangan, mengangkatnya, menghirup aromanya sebentar, baru meminumnya. Sesuprut demi sesuprut. Dia selalu melakukan itu, menikmati teh hangat pelan-pelan. Kebiasaannya yang tidak pernah bisa aku lupa.

Dia juga masih memiliki keceriaan yang akan membuatku ikut ceria. Selalu tertarik dengan hal-hal kecil dan menjelaskannya dengan semangat. "Lihat! Ada kupu-kupu!", "Lihat itu! Ada ColdPlay di tv!". Atau kemudian menceritakan lagu yang baru didengarnya dan menyanyikannya pelan sambil tersenyum dan memejamkan matanya. Aku menikmati suaranya, apalagi senyumnya ketika dia memejamkan mata. Aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana dia bisa melakukan semuanya, menarik perhatianku tanpa harus dia sengaja.


Read More ...

9 comments

To: wardaniema@gmail.com
subject:


I'm not lying, Em. Gak tahu ya, tapi mungkin benar, kalau memang shit happen. Dan sepertinya, ini giliranku. Hahaha, boleh ngetawain kesialanku sendiri kan, Em? Damn!

Btw, aku dan Dira masih bertengkar sampai sekarang. Kok dia gak mikir ya, Em? Bisa-bisanya seegois itu. Seenak udelnya batalin. Emang gak bikin orang panik, apa? Lha wong tinggal menghitung hari, lho, Em? Tinggal kurang dari 6 bulan.
Dan pas aku minta dia jelasin ke romo dan ibu, berdua deh gak apa. Cari alasan apa kek. Pokoknya barengan ngejelasin ke romo dan ibu kalau pernikahan kami batal. Mosok dia tetep gak mau, Em? Nyuruh aku yang ngejelasin aja. Lhah, enak di dia gak enak di aku kan, Em?
Read More ...

3 comments




"Kamu sudah makan?"

"Belum. Kamu?"

Aku tidak tahu apakah orang lain mengalami hal yang sama denganku, tapi setiap pertanyaanmu tentang aku, selalu terasa menyenangkan. Seolah-olah kamu begitu perhatian. Meski itu hanya, "Kamu?" atau "Kalau kamu?"

Karena itulah aku juga sering bertanya kepadamu tentang apa saja. Untuk memancingmu menanyakan hal yang sama kepadaku.

Apakah kamu merasakan hal yang sama? Merasa senang ketika aku perhatikan? Semoga jawabannya iya, karena aku sudah lelah dalam hati terus bertanya-tanya perasaanmu tapi tak pernah benar-benar berani menanyakannya.

Tetapi ada satu pertanyaan "kalau kamu?" yang paling menyenangkan di antara semuanya, yaitu percakapan kita yang ini:

Read More ...

7 comments


To: wardaniema@gmail.com
Subject:

Oke, Em. Its done! Its fix. Sial!

Dira gak mau nerusin pernikahan kami. Argh!

We had a fight a couple minute ago. I swear to God, I yell at her so loud. I never did that before.


Read More ...

1 comments


Seharusnya, aku bisa menemanimu sekarang. Menjaga bahagiamu, menerima bagian kesedihanmu untuk kudaur ulang menjadi hati baru.

Seharusnya, aku yang pertama kali mengucapkan selamat pagi kepadamu setiap hari dan selamat malam yang terakhir kali. Melihatmu di sampingku setiap akan dan bangun tidur. Merasa bahagia karena di tempat tidur itu ada kamu dan aku. Merasa aneh karena entah kenapa, aku tak pernah berhenti berdebar kapan pun kamu tersenyum meski kita sudah bersama bertahun-tahun.

Seharusnya, senyummu selalu menjadi satu-satunya yang aku nantikan setiap aku pulang. Menikmati teh melati hangat buatanmu yang selalu aku suka dan mungkin kalau beruntung, kamu membuatkan nasi goreng telur ceplok pedas yang selalu aku suka sekaligus satu-satunya masakan yang bisa kamu buat dengan sempurna. Lalu pada waktu malam, aku menemanimu bercerita sampai lelap menghajar mata kita.


Read More ...

3 comments



To: wardaniema@gmail.com
Subject: 


Em, tadi malam aku sudah ngobrol sama Dira. Damn! Okay, she’s annoying me! Untungnya aku bisa nahan emosi, Em. Like you told me, ngomong baik-baik dulu.

Jadi, aku turuti saranmu. Gak ngomongin romo maupun ibu. Benar-benar ngobrol tentang kita. Tentang aku dan dia.

Pas aku nanya perasaannya, dia bilang dia juga bingung. Argh! Pokoknya mbulet lah, Em. Bilang masih sayang lah, masih pengen bersama lah, tapi juga belum siap untuk menikah. 

Dia dulu menerima karena awalnya sepertinya sangat menyenangkan, menikah di usia muda (He?! Usia muda, Em? 22 tahun usia muda?! Kan sudah banyak yang menikah di usia itu), tapi belakangan perasaannya belum siap. 


Read More ...

2 comments

To: wardaniema@gmail.com
Subject:


Em, I need you.

Dira, dia... kayaknya benar-benar sudah fix mau membatalkan pertunangan kami. Padahal keluarga besar sudah tahu aku akan menikah enam bulan lagi.

Bapak dan ibu belum tahu tentang ini, Em. Kemarin, Dira pas main ke rumah juga masih biasa. Tapi pulangnya lagi-lagi dia ngomong mau membatalkan pertunangan saja.

Argh! It's so frustating!

Read More ...

7 comments