Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita datangi,
warung mi ayam langganan kita, atau kacang rebus pinggir jalan di pojok
perempatan dekat pos polisi. Rasanya sama, tetapi tetap suasananya berbeda.
Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati setiap detiknya.
Sekarang, aku ingin semua berlalu secepatnya. Sayang sekali, semua tempat itu
adalah tempat yang memang aku sukai, jadi mau tidak mau, aku akan ke sana
menikmati hari.
Setiap kali di tempat-tempat itu, bermunculan kamu di mana-mana. Di depanku sambil
tertawa, membeli kacang rembus sambil bergurau dengan penjualnya karena
seringnya kamu membeli darinya, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku
menambahkan empat sendok sambal ke mi ayamku. Kamu tahu aku selalu
melakukannya, tetapi kamu tetap merasa heran setiap kali melihatku memasukkan
begitu banyak sambal ke makanan apa saja.
”Menikah itu kompromi, berpasangan itu kompromi,” kataku
memulai jawaban.
Kita memang berbeda usia. 5 tahun 9 bulan tepatnya. Aku
belajar banyak tentang hidup, lebih dari kamu. Orang bilang, dewasa itu
pilihan. Ya, kadang-kadang. Kalau memang orang itu memilihnya. Tetapi, jika
sama-sama memilih untuk dewasa, maka semakin banyak umurnya, juga lebih dewasa.
Dan kamu bilang dulu, suka aku karena aku dewasa. Cukup
untuk mengimbangi kamu yang masih kekanak-kanakan dan manja.
“Biasanya,” lanjutku, “kamu akan mulai suka pedas, dan aku
mengurangi tingkat kepedasan kesukaanku. Bisa jadi juga kesukaanku akan pedas
jadi jauh berkurang. Pada intinya, banyak hal yang berubah. Itu pasti. Karena
seharusnya, dua orang akan mulai memikirkan ‘kita’ bukan lagi salah satunya.”
Kamu manggut-manggut dengan bibir merengut. Itu artinya kamu
mendengar tapi tidak tahu atau tidak yakin memang seperti itu. Ya, aku
mengenalmu sebanyak itu.
Sedetik kemudian, kamu menutupi rambutmu dengan kedua
tanganmu. Aku sampai belum sempat mengangkat tangan. Memang aku biasanya segera
mengacak rambutmu kalau kamu sudah bersikap lucu. Ya, kamu pun mengenalku
sebanyak itu.
Kita, bahagia ketika bersama atau bahkan ketika berjauhan
tetapi tetap bertegur sapa. ‘Selama kita jatuh cinta,’ katamu ketika aku
mengatakan ingin tetap perasaan bahagia itu ada selamanya. Aku tidak tahu
kenapa kamu mengatakannya.
"Selama kita jatuh cinta," belakangan aku sadari aku mulai menyesal setiap mendengarnya.
Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.
Secinta-cintanya kita, bisa jadi patah hati nanti. Sebahagia-bahagianya kita,
bisa jadi berduka nanti. Kita berusaha untuk berbahagia dengan yang ada, tetapi
belum tentu memang itu yang nanti akan menjadi bahagia yang sebenarnya.
Seperti kamu.
Aku sudah berusaha menjagamu. Mengusahakan semua
sebahagia-bahagiamu.
Lalu kamu pergi. Kamu bilang aku berubah, mungkin karena ada
orang lain. Tidak ada orang lain, kamu hanya mencari alasan untuk meninggalkan. Kamulah yang berubah menjadi orang lain. Kamu
bilang kita tidak lagi nyaman bersama. Aku merasa nyaman-nyaman saja, sampai
kamu menjawab sms ku hanya dengan ‘Tidak’ atau ‘Ya’. Aku merasa nyaman-nyaman
saja, sampai untuk bertemu kamu saja, aku mulai tidak bisa.
Aku yang ada orang lain, atau kamu? Kita yang tidak lagi
nyaman, atau kamu yang sudah menemukan kenyamanan baru?
Lupakan. Aku tidak butuh jawaban. Semua jawaban sudah ada
tanpa kamu perlu berkata apa-apa. Mungkin ini memang lebih baik untuk kita
daripada kita pura-pura baik-baik saja.
Kalau memang itu maumu, aku akan menerimanya semampuku. Aku
tidak akan menangisimu. Seperti apa yang aku bilang, kita tidak tahu akan
bersama siapa di masa depan. Aku selalu berharap yang terbaik, dan bersiap
untuk kemungkinan terburuk. Kita bersama adalah harapan terbaikku, kita
berpisah adalah kemungkinan terburukku. Well, at least I’m ready for the worst
part.
Mungkin kamu bukan bahagiaku, meski aku pernah mengiranya
begitu. Aku sudah bersiap untuk hal terburuk, apapun itu. Bahkan kamu meninggalkanku
pergi untuk orang lain. Aku hanya tidak mengira, orang yang kamu pilih adalah sahabatku.
Aku tidak bersiap untuk itu.
Categories:
Flashfiction,
Scenefiction
Nangis gue :'''''
Nangis gue :'''''
menarik....tapi ngak ikutan nangis sih,,,he,he,he
😭
Sedih kalo di ingat terus...
kalem ja ya guys..kwkkwkwk